Hubungi kami,
BP2KP & Tourist Information Center


Jl. W.R. Supratman No. 1 Pekalongan

+62285-4151574

Kawasan Wisata Religi Sapuro dan Tradisi Khaul Habib Ahmad Bin Abdullah Bin Tholib Al Atas

Wisata budaya

Kota Pekalongan selama ini dikenal sebagai kota yang religius. Hal ini diperkuat dengan banyaknya makam-makam para ulama atau wali di Kota Pekalongan, termasuk makam seorang ulama besar yaitu Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al Atas yang berada di Kelurahan sapuro. Al Habib Ahmad Bin Abdullah Bin Thalib Alathas dilahirkan di kota Hajren Hadramaut, Yaman pada tahun 1255H atau 1836M. Beliau menghabiskan masa remajanya untuk mempelajari ilmu agama di kota asalnya. Beragam disiplin ilmu agama berhasil beliau raih dengan gemilang. Beliau melanjutkan pendidikannya ke kota Mekah dan Madinah. Sekalipun banyak mendapat tempaan ilmu dari banyak guru di kedua kota suci ini, namun guru yang paling utama dan paling besar pengaruhnya bagi pribadi Habib Ahmad adalah As-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan. Beliau adalah seorang ulama yang sangat banyak muridnya di Mekah dan di negara-negara lain, termasuk Indonesia. Hadhratul Fadhil Mbah K.H. Kholil, Bangkalan Madura dan Hadrotusy Syekh K.H. Hasyim Asy’ari, Jombang Jawa Timur juga pernah berguru kepadanya. Kedua ulama ini adalah cikal bakal jamiyyah Nahdhatul Ulama.

Setelah selesai dan lulus menempuh pendidikan dan latihan, terutama latihan kerohanian secara mendalam, Habib Ahmad mendapat tugas dari gurunya untuk berdakwah menyebarkan syariat agama Islam di kota Mekah. Beliau sangat dicintai dan dihormati oleh segala lapisan masyarakat, karena Habib Ahmad berusaha meneladani kehidupan Rasulullah SAW. Habib Ahmad mengajar dan berdakwah di kota Mekah selama tujuh tahun. Setelah itu beliau kembali ke kampung halamannya, Hadramaut.  Tidak lama mukim di kota kelahirannya, Habib Ahmad merasa terpanggil untuk berdakwah di Asia Tenggara dan pilihan beliau jatuh ke Indonesia. Karena memang pada waktu itu sedang banyak-banyaknya imigran dari Hadramaut yang datang ke Indonesia. Di samping untuk berdagang juga untuk mensyiarkan ajaran Islam.

Setibanya Habib Ahmad di Indonesia, sekitar tahun 1295 H, beliau memilih tinggal di Pekalongan, Jawa Tengah karena beliau melihat kondisi keagamaan yang masih sangat minim di sana. Dan saat pertama menginjakkan kakinya di Pekalongan, Habib Ahmad melaksanakan tugas sebagai imam di Masjid Wakaf di kampung Arab (sekarang Jl. Surabaya).  Dari Masjid Wakaf inilah Habib Ahmad memulai dakwahnya. Dari pengajian kitab-kitab fiqih, pembacaan maulid daiba’i, barzanji, pembacaan wirid, zikir dan lain sebagainya. Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alathas juga dikenal sebagai ulama hafidz (penghafal al-Qur’an). Beliau adalah seorang ulama yang selalu tampil dengan rendah hati, senang bergaul dan gemar bersilaturrahim dengan siapa saja. Habib Ahmad paling tidak senang, bahkan marah kalau ada yang mengkultuskan dirinya. Kendati demikian, Habib Ahmad tidak dapat mentolerir terhadap hukum-hukum dari Allah dan Rasul-Nya yang diremehkan oleh orang lain. Beliau sangat teguh dan keras memegang syariat Islam, seperti masalah amar ma’ruf nahi mungkar.

Pada zamannya dahulu, Habib Ahmad ibarat Khalifah Umar bin Khathab yang sangat tegas dan keras menentang setiap kemungkaran. Tidak peduli yang berbuat mungkar itu pejabat maupun orang awam. Menjelang akhir hayatnya, Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Athas mengalami patah tulang pada pangkal pahanya, akibat jatuh hingga beliau tidak sanggup berjalan. Sejak saat itu beliau mengalihkan semua kegiatan keagamaannya di kediamannya, termasuk salat berjamaah dan pengajian. Penderitaan ini berlanjut sampai beliau dipanggil pulang ke Rahmatullah. Habib Ahmad Bin Abdullah Bin Thalib Al-Athas meninggal dunia pada malam ahad 24 rajab 1347H atau tahun 1928M. Habib Ahmad meninggal dunia dalam usia 92 tahun. Walaupun beliau meninggal dunia pada tanggal 24 Rajab, akan tetapi acara khaulnya diperingati setiap tanggal 14 Syakban, bertepatan dengan malam nisfu Syakban. Masyarakat dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri ikut hadir pada acara Khaul tersebut. Setiap harinya juga banyak rombongan peziarah dari berbagai kota yang menyempatkan waktunya untuk berdoa di Makam Habib Ahmad, sehingga saat ini kawasan Sapuro sudah dikenal sebagai tujuan wisata ziarah, khususnya ziarah Walisongo. 

Tradisi Khaul adalah tradisi berupa upacara keagamaan untuk memperingati/mengenang jasa-jasa tokoh agama/Kyai/Habib yang dilakukan oleh penerus dan atau pengikut tokoh tersebut. Tradisi ini dilakukan setahun sekali. Ada banyak khoul yang diselenggarakan dan menarik banyak peziarah dari berbagai kota di sekitar Pekalongan. Yang paling terkenal adalah Khoul untuk mengenang jasa- jasa Habib Akhmad bin Abdullah bin Tholib Al Atas, semasa hidupnya merintis penyebaran agama islam di Jawa, yang diselenggarakan setiap tanggal 14 Sya’ban (Ruwah) setiap tahun. Khaul tersebut banyak dihadiri oleh berbagai kalangan umat Islam. Mereka berduyun-duyun dari berbagai kota hadir disana, demi mengenang kehidupan beliau demi menjemput datangnya nafaahat dan imdaadat. Sehari menjelang khaul, pada malam harinya di Masjid Raudah yang merupakan dulunya menjadi lokasi tempat tinggal Habib Ahmad diselenggarakan acara khatam shahih Bukhari, salah satu mata pelajaran keagamaan yang diberikan kepada murid-muridnya selama almarhum hidup. Imam Bukhari, yang lahir di Bukhara, Asia Tengah (dulu bagian dari Uni Soviet), pada 194 H, selama 16 tahun telah mengumpulkan ratusan ribu hadits. Kemudian ia menyaring hadits itu dan hanya beberapa ribu saja yang dinilainya dapat dipercaya. Ketelitiannya dalam periwayatan hadits, menyebabkan para ulama hadits belakangan menempatkan kitab Sahih al-Bukhari sebagai peringkat pertama dalam urutan kitab-kitab hadits yang muktabar. Pada puncak acara khaul, dibacakan manakib atau riwayat hidup Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alatas. 

 Important Information

 Kategori

 : 

Wisata budaya

 Area

 : 

 Alamat

 : 

Kawasan Makan Sapuro, Jl. Irian Pekalongan

 Hal penting

 : 

 Kontak

 : 

 Email

 : 

 Website

 :