Hubungi kami,
BP2KP & Tourist Information Center


Jl. W.R. Supratman No. 1 Pekalongan

+62285-4151574

Kawasan Kota Tua Pecinan

Wisata budaya

Hubungan antara negeri China dengan Jawa sudah terjalin sejak lama. Berdasarkan catatan sejarah, pada sekitar abad ke-17 pernah ada seorang pengembara dari China bernama Fa-Hien yang sempat singgah di Pulau Jawa, jauh sebelum bangsa Eropa mengetahuinya. Fa-Hien menyebut Ya-va (Jawa) dalam laporan pertamanya tentang keberadaan umt Hindu di Jawa. Sejak saat itu Pemerintah China mengadakan hubungan diplomatik dengan Jawa, sehingga banyak orang China khususnya para pedagang yang singgah di Pulau Jawa termasuk daerah pesisir utara pulau Jawa, di Pekalongan. Berdasarkan catatan naskah kuno Tiongkok “Yi toung Techi” (Geografi Akbar) yang dibuat pada masa Dinasti Ming, Lokasi “Pou-Kia-Lung” berada di  negeri Jawa, sebelah timur berbatasan dengan “Negeri yang dipimpin seorang wanita”, sebelah barat dengan kerajaan “Shi-Li-Fout-Shi”(Sriwijaya), sebelah selatan dengan kerajaan Ta-Chi dan sebelah utara dengan kerajaan “Tsiem-Pa”(Campa).

Dengan demikian, nama Pekalongan sudah dulu ada, tetapi bukan berasal dari kata “Pau-Kia-Loung, melainkan sebaliknya, istilah Pau Kia Loung diambil dari nama Pekalongan. Catatan sejarah lainnya yang ditulis pada jaman Dinasti Tsung yang berkuasa di China tahun 960-1.279 Masehi juga menyatakan bahwa Pekalongan yang biasa disebut oleh para pedagang China dengan nama “Pu-Kau-Lung”dengan rajanya yang memiliki rajutan rambut di bagian belakang kepalanya, sedangkan rakyatnya bertubuh pendek dan memakai kain tenun berwarna-warni (diduga Batik). Kapal dagang China berlayar (dengan bantuan tenaga angin) dari Kanton pada bulan Nopember dan tiba di Pu-Ka-Long sekitar sebulan kemudian.

Munculnya pemukiman di kampung Sampangan merupakan awal perkembangan Pekalongan selanjutnya. Dulunya, Sungai Kupang merupakan pangkalan pelabuhan dagang antar pulau. Kawasan ini dikenal dengan nama “Pintoe Dalam” oleh Pemerintah Kolonial Belanda dan selanjutnya dijadikan kawasan pemukiman khusus warga Tionghoa. Penguasa Belanda membagi-bagi kawasan pemukiman sesuai etnis, bukan dengan tujuan untuk menutup diri dan mencegah pembauran, namun untuk mengontrol populasi dan kriminalitas di Pekalongan. Kawasan untuk warga Tionghoa ini diberi nama “Chinese Wijk”yang terdiri dari wilayah Keplekan Lor (jalan Sultan Agung), Keplekan Kidul (Jalan Hasanudin) dan kawasan Kerimunan (Jalan Salak dan Jalan Manggis). Wilayah Pintoe